Contoh Kertas Kerja Audit Internal

Penjelasan Kertas Kerja Audit Internal

Donabisnis.com – Contoh kertas kerja audit internal. Kertas kerja audit internal adalah catatan-catatan yang diselenggarakan auditor mengenai prosedur audir yang ditempuhnya, pengujian yang dilakukanya, informasi yang diperolehnya, dan kesimpulan yang dibuatnya berkenaan dengan pelaksanaan audit.

Oleh karena itu pembuatan dan penyimpanan contoh kertas kerja audit internal merupakan pekerjaan yang penting dalam audit. Sebagian besar informasi yang disediakan klien untuk auditor merupakan inforamsi yang bersifat rahasia. Oleh karena itu, auditor harus memberikan jaminan kerahasiaan informasi yang diberikan oleh klien dalam kertas kerja audit internal. Hal ini sesuai dengan kode etik Akuntan Indonesia pasal 19 yang berbuyi:

Seorang akuntan publik harus menjaga kerahasiaan informasi yang diperolehnya selama penugasan professional dan tdak boleh terlibat dalam pengungkapan fakta atau informasi tersebut, biala ia tidak memperoleh ijin khusus dari klien bersangkutan, kecuali jika dikehendaki oleh hukum, atau Negara atau profesionalnya.

Cara Membuat Kertas Kerja Audit Internal

Kecakapan teknis dan keahlian profesional seorang auditor independen agar tercermin pada kertas kerja yang dibuatnya. Untuk membuktikan bahwa seseorang merupakan auditor yang kompeten, ia harus dapat menghasilkan kertas kerja yang benar-benar bermanfaat. Untuk memenuhi tujuan ini ada lima faktor cara membuat kertas kerja yang baik yang harus diperhatikan, yaitu:

  • Kertas kerja harus lengkap dalam arti: Berisi semua informasi yang pokok. Auditor harus dapat menentukan komposisi semua data penting yang harus dicantumkan dalam kertas kerja. Tidak memerlukan tambahan penjelasan secara lisan. Kertas kerja harus dapat “berbicara” sendiri, harus berisi informasi yang lengkap, tidak berisi informasi yang masih belum jelas atau pertanyaan yang belum terjawab.
  • Dalam pembuatan kertas kerja, auditor harus memperhatikan ketelitian dalam penulisan dan perhitungan sehingga kertas kerjanya bebas dari kesalahan tulis dan perhitungan.
  • Kertas kerja harus dibatasi pada informasi yang pokok saja dan yang relevan dengan tujuan audit yang dilakukan serta disajikan secara ringkas. Analisis yang dilakukan oleh auditor harus merupakan ringkasan dan penafsiran data dan bukan hanya merupakan penyalinan catatan klien ke dalm kertas kerja.
  • Kejelasan dalam menyajikan informasi kepada pihak-pihak yang akan memeriksa kertas kerja perlu diusahakan oleh auditor. Penyajian informasi secara sistematik perlu dilakukan.
  • Kerapian dalam pembuatan kertas kerja dan keteraturan penyusunan kertas kerja akan membantu auditor senior dalam me-review hasil pekerjaan stafnya serta memudahkan auditor dalam memperoleh informasi dari kertas kerja tersebut.

Contoh Kertas Kerja Audit Internal

Di bawah ini ada beberapa contoh kertas kerja audit internal. Mulai dari aset tak berwujud, setara kas, persediaan, pemeriksaan piutang, utang, dan lain sebagainya lengkap.

1. Audit Aset Tak Berwujud

A: Proses Penyusunan Working Paper Pemeriksaan Aset Tak Berwujud

Bagaimana bentuk kertas kerja audit aset tak berwujud? Perhatikan contoh kertas kerja audit berikut ini:

(a): Saldo awal 1 Januari 2020 = Rp 325.000.000 V/

(b): Penambahan tahun 2020:

Penambahan #1:

  • Tanggal 15 Juli 2020
  • Nomor Bukti = BK109/VI/20
  • Keterangan = Pembelian hak paten untuk produk baru
  • Jumlah = Rp 500.000.000 Vo

Penambahan #2:

Tanggal 17 Desember 2020

  • Tanggal 17 Desember 2020
  • Nomor Bukti = BK829/XII/20
  • Keterangan = Pembelian copy right buku baru
  • Jumlah = Rp 100.000.000 Vo

Total penambahan tahun 2020:

= Rp 500.000.000 + Rp 100.000.000
= Rp 600.000.000

(c): Pengurangan tahun 2020:

1: Amortisasi

Goodwill ex PT A = 5% x Rp 600.000.000 = Rp 30.000.000 ^
Hak Paten = 10% x 6/12 x 500.000.000 = Rp 25.000.000 ^

2: Penghapusan

Goodwill ex PT B = Rp 25.000.000 J
Total pengurangan tahun 2020:

= Rp 30.000.000 + Rp 25.000.000 + Rp 25.000.000
= Rp 80.000.000 ^

Saldo per buku 31 Desember 2020:

= (a) + (b) – (c)
= (Rp 325.000.000 + Rp 600.000.000) – Rp80.000.000
= Rp 845.000.000 L ^

Keterangan:

  • Vo = Periksa bukti pengeluaran kas dan perjanjian
  • V/ = Cocokkan dengan KKP tahun lalu
  • L = Cocokkan dengan buku besar
  • ^ = Check footing/ perkalian
  • J = Periksa journal entry dan otorisasi direksi

Saldo awal terdiri dari:

  • Goodwill ex PT A dengan biaya Rp 600.000.000 sudah diamortisasi 10 tahun (sisa Rp 300.000.000).
  • Goodwill ex PT B dengan biaya Rp 100.000.000, sudah diamortisasi 15 tahun (sisa Rp 25.000.000)

B: Contoh Working Paper Pemeriksaan Aset Tak Berwujud

Dan bila komponen-komponen kertas kerja audit aset tidak berwujud di atas disatukan, maka akan tampak seperti berikut ini:

aset tak berwujud

2. Audit Kas dan Setara Kas

Ada dua jenis kertas kerja audit (audit work paper) kas dan setara kas yang disajikan yaitu:

  • Penerimaan kas
  • Pengeluaran kas

A: Contoh Working Paper Audit Pengeluaran Kas

Berikut ini disajikan contoh format audit work paper pengeluaran kas sesudah tanggal Laporan Posisi Keuangan atau Neraca:

1: Tanggal 05 Januari 2020

  • Nomor Bukti: CPV 010/1/20
  • Keterangan: Biaya transport minggu 4 Desember 2019
  • Jumlah: Rp 1.250.000 Vo
  • Account Debited: 203 (Biaya y.m.h dibayar)

2: Tanggal 12 Januari 2020

  • Nomor Bukti: BK No.54550010
  • Keterangan: PT Sari Jaya, pelunasan utang pembelian bahan baku Desember 2019
  • Jumlah: Rp 7.500.000 Vo
  • Account Debited: 201 (Utang Usaha)

3: Tanggal 15 Januari 2020

  • Nomor Bukti: BK No.54550011
  • Keterangan: Kas Negara, Setoran PPN Desember 2019
  • Jumlah: Rp 2.300.000 V/
  • Account Debited: 205 (Utang PPh 21)

4: Tanggal 15 Januari 2020

  • Nomor Bukti: BK No.54550012
  • Keterangan: Kas Negara, setoran PPh 21 Desember 2019
  • Jumlah: Rp 13.500.000 V
  • Account Debited: 206 (Utang PPN Desember)

5: Tanggal 17 Januari 2020

  • Nomor Bukti: BK No.54550017
  • Keterangan: PLN, listrik Desember 2019
  • Jumlah: Rp 1.100.000 Vo
  • Account Debited: 203 (Biaya y.m.h dibayar)

6: Tanggal 17 Januari 2020

  • Nomor Bukti: BK No.54550019
  • Keterangan: Telepon, rekening telepon Desember 2019
  • Jumlah: Rp 1.800.000 Vo
  • Account Debited: 203 (Biaya y.m.h dibayar)

7: Tanggal 25 Januari 2020

  • Nomor Bukti: BK No.5550022
  • Keterangan: PT Tintin, pelunasan utang pembelian komputer 27 Desember 2019.
  • Jumlah: Rp 4.500.000 Vo
  • Account Debited:201 (Utang Usaha)

Kami telah melakukan scanning terhadap buku pengeluaran kas, Januari 2020 sampai dengan Maret 2020. Dan pengeluaran kas yang berkaitan dengan transaksi 2019 telah kami periksa bukti-buktinya.

Dan ternyata yang berkaitan dengan utang atau biaya y.m.h dibayar. Semuanya sudah dicatat dengan benar per 31 Desember 2019 oleh klien.

Vo = Periksa bukti pengeluaran kas (cash payment voucher)
V/ = Periksa bukti pengeluaran kas (CPV) dan SSP

Dan bila elemen-elemen kertas kerja pemeriksaan kas di atas digabungkan menjadi satu, maka bentuknya adalah seperti berikut ini:

kertas kerja kas bank

B: Contoh Working Paper Audit Penerimaan Kas

Perhatikan elemen-elemen contoh kertas kerja audit penerimaan kas berikut ini:

1: Tanggal 12 Januari 2020

  • Nomor Bukti: CRV 060/1/20
  • Keterangan: Bunga Deposito Ex. Bank BNI, 13/12/2019 sampai dengan 12/1/2020
  • Jumlah: Rp 2.500.000 //
  • Account Credited: 557 (Pendapatan Bunga)

2: Tanggal 15 Januari 2020

  • Nomor Bukti: CRV 035/1/20
  • Keterangan: Pelunasan Ex. PT Pratama (invoice #371/XII/19)
  • Jumlah: Rp 25.000.000 r
  • Account Credited: 120 (Piutang Usaha)

3: Tanggal 27 Januari 2020

  • Nomor Bukti: CRV 045/1/20
  • Keterangan: Pelunasan Ex. PT Lorensia (invoice #272/XII/19)
  • Jumlah: Rp 37.000.000 r
  • Account Credited: 120 (Piutang Usaha)

4: Tanggal 30 Januari 2020

  • Nomor Bukti: CRV 057/1/20
  • Keterangan: Pelunasan ex. PT Laba Ria (invoice #275/XI/2019)
  • Jumlah: Rp 47.500.000 r
  • Account Credited: 120 (Piutang Usaha)

5: Tanggal 11 Maret 2020

  • Nomor Bukti: CRV 075/1/20
  • Keterangan: Pelunasan Ex. PT Sukaku (invoice #373/XII/19)
  • Jumlah: Rp 33.300.000
  • Account Credited: 120 (Piutang Usaha)

Kami telah melakukan scanning terhadap buku penerimaan kas Januari 2020 sampai dengan Maret 2020. Dan penerimaan kas yang berkaitan dengan transaksi 2019 telah kami periksa bukti-buktinya dan ternyata yang berkaitan dengan piutang, atau pendapatan.

Semuanya sudah dicatat dengan benar per 31 Desember 2019 oleh klien.

r = Periksa cash receipt voucher
// = Bunga deposito untuk periode 13/12/2019 sampai dengan 31/12/19 sudah di-accrued.

Dan per 1/1/2020 sudah dibuat reversing entry atau jurnal pembalik oleh klien. Sehingga pada saat penerimaan bunga tanggal 12/1/2020 seluruhnya dikredit ke nomor rekening 357.

Dan format legkap kertas kerja audit kas dan setara kas – penerimaan kas adalah sebagai berikut:

kertas kerja setara kas

3. Audit Persediaan

A: Proses Penyusunan Working Paper Persediaan

Bagaimana format kertas kerja audit persediaan? Berikut ini komponen-komponen contoh kertas kerja audit persediaan:

1: Tanggal 23 Desember 2019

  • Nomor Bukti: P 1312/19
  • Keterangan: Pembelian persediaan bahan baku dari PT Sukamu dengan invoice no. #529/XII/19 tanggal 29 Desember 2019.
  • Jumlah: Rp 17.700.000 Vo
  • Catatan: Receiving report tanggal 30 Desember 2019.

2: Tanggal 23 Desember 2019

  • Nomor Bukti: P 1313/19
  • Keterangan: Pembelian persediaan barang dagangan dari PT Sri Rejeki dengan nomor invoice #757/XII/19, tanggal 28/12/2019
  • Jumlah: Rp 39.500.000 Vo
  • Catatan: Receiving report tanggal 29/12/2019

3: Tanggal 24 Desember 2019

  • Nomor Bukti: P 1314/19
  • Keterangan: Pembelian persediaan barang dagangan dari PT Welas Asih (invoice nomor #393/XII/19, tanggal 29 Desember 2019.
  • Jumlah: Rp 47.120.000 Vo
  • Catatan: Receiving report tanggal 30/12/19

4: Tanggal 05 Januari 2020

  • Nomor Bukti: P 00001/20
  • Keterangan: Pembelian packaging dari PT Pratam Jaya (invoice nomor #13/I/20)
  • Jumlah: Rp 25.700.000 Vo
  • Catatan: Receiving report tanggal 14/1/20

5: Tanggal 12 Januari 2020

  • Nomor Bukti: P 00002/20
  • Keterangan: Pembelian persediaan bahan baku dari PT Dona Doni (invoice No. #35/II/20)
  • Jumlah: Rp 54.500.000 Vo
  • Catatan:Receiving report tanggal 23/1/20

Vo : Periksa PO, RR, Supplier Invoice, dan perhitungan matematisnya. Selain itu periksa juga pencatatan di buku penjualan dan posting ke kartu utang dan stock card.

Catatan:
Syarat pengiriman barang adalah FOB Destination Point

Kesimpulan:
Setelah memeriksa transaksi pembelian lebih kurang dua minggu, sebelum dan sesudah tanggal laporan posisi keuangan (neraca), kami tidak menemukan adanya pergeseran pencatatan pembelian.

Karena itu, kami berkesimpulan bahwa pembelian sudah dicatat dalam periode yang benar.

B: Contoh Working Paper Persediaan

Dan bila contoh komponen-komponen working paper tersebut digabungkan menjadi satu, maka akan terbentuk satu format kertas kerja pemeriksaan persediaan berikut ini:

kertas kerja audit persediaan

4. Pemeriksaan Piutang

A: Proses Penyusunan Working Paper Piutang

Bagaimana format kertas kerja pemeriksaan piutang? Perhatikan contoh berikut ini:

Catatan:
Syarat pengiriman barang adalah FOB Shipping point Point, penjualan dicatat.

Pendapatan diakui pada saat barang dikirim ke pembeli.

Kesimpulan:
Setelah memeriksa transaksi penjualan, lebih kurang dua minggu sebelum dan sesudah tanggal laporan posisi keuangan (neraca).

Kami tidak menemukan adanya pergeseran pencatatan penjualan.

Karena itu kami menyimpulkan bahwa penjualan sudah dicatat dalam periode yang benar.

Vo:
Periksa DO, SI dan perhitungan matematisnya.

Selain itu periksa pencatatan di buku penjualan dan posting ke kartu piutang dan stock card.

B: Contoh Working Paper Piutang

Dan bila komponen-komponen working paper tersebut disatukan, maka bentuknya adalah seperti di bawah ini:

contoh kertas kerja audit internal piutang

5. Pemeriksaan Utang

Ada 4 contoh kertas kerja pemeriksaan utang yang akan disajikan dan bahas, yaitu:

  • Contoh Kertas Kerja Audit Utang Pajak Penghasilan (PPh 21)
  • Contoh Kertas Kerja Audit Utang Pajak Penghasilan Badan (PPh Badan)
  • Contoh Audit Work Paper Utang Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
  • Contoh Audit Work Paper Utang Lain-lain.

Berikut ulasannya satu per satu.

– Pemeriksaan Pajak Penghasilan (PPh 21)

Perhatikan komponen-komponen kertas kerja audit utang pajak penghasilan (PPh 21) berikut ini:

Saldo awal: 01 Januari 2019: Rp 1.500.000 V

Bulan: Januari 2019
Debit: Rp 1.500.000 Vo
Kredit: Rp 1.575.000/

Bulan: Februari 2019
Debit: Rp 1.575.000 Vo
Kredit: Rp 1.650.000

Bulan: Maret 2019
Debit: Rp 1.650.000 Vo
Kredit: Rp 5.250.000/

Bulan: April 2019
Debit: Rp 1.750.000 Vo
Kredit: Rp 1.800.000

Bulan: Mei 2019
Debit: Rp 1.800.000 Vo
Kredit: Rp 1.600.000 Vo

Bulan: Juni 2019
Debit: Rp 1.600.000 Vo
Kredit: Rp 1.400.000

Saldo: 30 Juni 2019
= Rp 3.275.000 – 9.875.000
= Rp 3.400.000 ^

Saldo per audit 30 Juni 2020:

= Rp 1.500.000 + Rp 3.400.000
= Rp 4.900.000 ^

Pencatatan jurnal akuntansinya adalah:

[Debit] Biaya PPh 21, Rp 1.500.000
[Kredit] Utang PPh 21, Rp 1.500.000

Untuk mencatat kekurangan catat PPh 21, sesuai SPT PPh 21 tahun 2019 yang dimasukkan perusahaan dan SSP PPh pasal 29.

V/ = Cocok dengan KKP tahun lalu
^ = Check footinh
L = Cocok dengan general ledger
Vo = Periksa bukti pengeluaran kas dan SSP
∆ = Merupakan setoran akhir SPT PPh 21 tahun 2019
/ = PPh yang dipotong dari gaji pegawai sesuai daftar gaji.

Dan bila digabung menjadi satu format kertas kerja audit, akan terlihat sebagai berikut:

working paper pph21
– Pemeriksaan Utang Pajak Penghasilan Badan (PPh Badan)

Perhatikan komponen penyusun kertas kerja utang pajak penghasilan badan (PPh Badan) berikut ini:

(a): Saldo utang PPh Badan 1/1/2019 = Rp 35.750.000 V/
(b): Pembayaran tanggal 25/1/2019 = ( Rp 35.750.000) Vo
(c): Utang PPh Badan tahun 2019 berdasarkan laba fiskal sesuai SPT PPh Badan = Rp 36.475.000 ∆

Saldo per book 31 Desember 2019 = Rp 36.475.000 L

Laba Fiskal tahun 2019 = Rp 291.800.000

PPh Terutang

= 50% x 25% x Rp 291.800.000
= Rp 36.475.0000 ^

V/ = Cocock dengan KKP tahun lalu
^ = Cek perhitungan matematis
L = Cocok dengan general ledger
Vo = Periksa bukti pengeluaran kas dan SSP PPh psl 29
∆ = Periksa SPT PPh Badan tahun 2019.

Dan bila komponen-komponen tersebut disatukan, maka hasilnya adalah sebagai berikut:

working paper pph badan
– Pemeriksaan Utang Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Perhatikan elemen format audit work paper yatng pajak pertambahan nilai (PPN) berikut ini:

(a): Saldo awal tanggal 1 Januari 2019 = Rp 7.000.000 V/
(b): Rangkuman Nilai Penjualan periode Januari – Desember 2019 = Rp 9.814.840 ^ (dalam ribuan)
(c): Ringkasan jumlah PPN Keluaran (10%) periode Januari – Desember 2019 = Rp 981.484 ^ (dalam ribuan).
(d): Ringkasan jumlah PPN Masukkan periode Januari – Desember 2019 = Rp 826.634 ^ (dalam ribuan)
(e): Ringkasan jumlah setoran PPN periode Januari – Desember 2019 = Rp 67.700 ^ (dalam ribuan)
(f): Saldo Utang PPN periode Januari – Desember 2019 = Rp 8.100.000//

^ = Cek perhitungan matematis
V/ = Cocok dengan KKP tahun lalu
/ = Cocok dengan buku penjualan dari general ledger
^ = Cocok ke SPM PPN tahun 2019 dan secara sampling ke Faktur Pajak PPN Keluaran
J = Docek ke SPM PPN tahun 2019 dan secara sampling ke Faktur Pajak PPN Masukkan
Vo = Periksa bukti pengeluaran kas dan SSP PPN
// = Periksa subsequent payment

Dan berikut ini contoh lengkap kertas kerja audit utang PPN:

working paper ppn
– Pemeriksaan Utang Lain-lain

Berikut ini contoh format working paper utang lain-lain:

Utang lain-lain per 31 Desember 2019 = Rp 750.000

Saldo utang lain-lain per 31/12/2019 sebesar Rp 750.000 adalah utang yang tidak jelas asal-usulnya yang timbul sejak tahun 2016.

Karena jawabannya tidak materil maka kami tidak melakukan suatu audit prosedur atas saldo tersebut.

Selain itu kami berpendapat bahwa utang tidak bisa dihapuskan begitu saja.

6. Contoh Kertas Kerja Pemeriksaan Biaya

A: Proses Penyusunan Working Paper Biaya Yang Masih Harus Dibayar

Bagaimana bentuk kertas kerja audit biaya yang masih harus dibayar? Perhatikan contohnya berikut ini?

01: Biaya listrik Desember 2019
Saldo 31/12/2019 = Rp 1.525.000
Subsequent Clearance 15/3/2020 = Rp 1.525.000 Vo

02: Biaya Telepon Desember 2019
Saldo 31/12/2019 = Rp 2.750.000 (1)
Subsequent Clearance 15/3/2020 = Rp 3.250.000 Vo

03: Biaya PAM Desember 2019
Saldo 31/12/2019 = Rp 350.000
Subsequent Clearance 15/3/2020 = Rp 350.000 Vo

04: Biaya langganan surat kabar dan majalah Desember 2019
Saldo 31/12/2019 = Rp 275.000 (2)
Subsequent Clearance 15/3/2020 = Rp 275.000 Vo

05: Biaya iuran keanggotaan
Saldo 31/12/2019 = Rp 1.000.000 (3)
Subsequent Clearance 15/3/2020 = 0

06: Gaji yang masih harus dibayar
Saldo 31/12/2019 = Rp 7.500.000
Subsequent Clearance 15/3/2020 = Rp 7.500.000

07: Biaya perjalanan direksi
Saldo 31/12/2019 = Rp 15.000.000 (4)
Subsequent Clearance 15/3/2020 = Rp 15.000.000 Vo

08: Biaya Bonus
Saldo 31/12/2019 = Rp 50.000.000 (5)
Subsequent Clearance 15/3/2020 = Rp 50.000.000 Vo

09: Biaya iuran kebersihan lingkungan
Saldo 31/12/2019 = Rp 550.000
Subsequent Clearance = Rp 550.000

Jumlah saldo 31/12/2019 = Rp 78.950.000 L
Jumlah subsequent clearance 15/3/2020 = Rp 78.950.000

  • [Debit] Biaya Telepon, Rp 500.000
  • [Debit] Biaya y.M.H. Dibayar, Rp 4.499.500
  • [Debit] Biaya Bonus, Rp 5.000.000
  • [Kredit] Biaya y.M.H. Dibayar, Rp 5.500.000
  • [Kredit] Biaya Langganan, Rp 275.000
  • [Kredit] Biaya Penjualan, Rp 4.224.500

Untuk mengoreksi over/under accrued yang didasarkan pada subsequent payment:

  • Taksiran biaya biaya telepon Desember 2019 terlalu rendah Rp 500.000 dibandingkan realisasi pembayarannnya.
  • Langganan Surat Kabar dan Majalah, sudah dibayar Desember 2019, namun dicatat dengan mendebit biaya langganan, seharusnya biaya yang masih harus dibayar.
  • Beban ditagih oleh asosiasi pedagang pertokoan.
  • Pertanggungjawaban biaya perjalanan di 25/2/2020 ternyata lebih kecil dari jumlah yang di-accrued.
  • Accrued bonus didasarkan pada notulen rapat direksi 23/12/2019. Namun saat pembayaran tanggal 15/3/2020, direksi memutuskan untuk menambah jumlah bonus sebesar 10%.
  • ^ = Check footing
  • L = Cocok dengan general ledger

Vo = Periksa bukti pembayaran sesudah tanggal laporan posisi keuangan (neraca).

B: Contoh Working Paper Biaya Yang Masih Harus Dibayar

Bila elemen-elemen working paper ini digabungkan akan terlihat sebagai berikut:

kertas kerja biaya

7. Contoh Working Paper Audit Utang Jangka Panjang

A: Proses Penyusunan Kertas Kerja Pemeriksaan Utang Jangka Panjang

Berikut ini contoh working paper utang subordinasi:

Saldo utang subordinasi per 31 Desember 2019:

  • Utang kepada Ny. Chrisanto = Rp 100.000.000 Conf
  • Utang kepada Pak Purwanto = Rp 110.000.000 Conf
  • Utang kepada Ny. Rosita = Rp 50.000.000 Conf
  • Utang kepada Ny. Roro = Rp 50.000.000 Conf
  • Utang kepada Pak Alex = Rp 90.000.000 Conf
  • Jumlah Utang Subordinasi = Rp 400.000.000 L ^
  • Utang subordinasi diterima dari pemegang saham di tahun 2016.

Tanggal jatuh tempo utang tersebut tidak ditentukan karena baru akan dibayar kembali pada saat perusahaan sudah mempunyai dana yang cukup.

Atau bisa juga dialihkan sebagai setoran modal.
Atas utang tersebut tidak dibebankan bunga.

Conf = Sesuai dengan jawaban konfirmasi
^ = Check footing
L = Cocok dengan buku besar

B: Contoh Kertas Kerja Pemeriksaan Utang Jangka Panjang

Dan bila komponen-komponen tersebut digabungkan menjadi satu bagian, hasilnya adalah sebagai berikut:

contoh kertas kerja audit internal utang

Akhir Kata

Demikian pembahasan lengkap mengenai contoh kertas kerja audit internal perusahaan. Selain membahas contoh kertas kerja audit internal, termasuk juga pembahasan mengenai pengertian, definisi, penjelasan, hingga cara membuatnya.

Tinggalkan komentar