Solvability Ratio

Pengertian dan Contoh Solvability Ratio

Donabisnis.com – Pengertian solvability ratio. Rasio solvabilitas, disebut juga solvability ratio adau leverage ratio adalah rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan dari suatu perusahaan. Penilaian dalam hal membayar hutang, baik jangka pendek atau jangka panjang jika perusahaan dibubarkan.

Arti lainnya, ialah rasio tersebut digunakan untuk mengukur sejauh mana aset perusahaan dibiayai dari kewajiban. Hal ini berarti besarnya kewajiban yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya.

Nah pada kesempatan ini kami akan menjelaskan secara lengkap mengenai solvability ratio. Mulai dari pengertian, jenis, manfaat, tujuan, rumus, hingga contoh. Silahkan simak pembahasan di bawah ini.

Pengertian Solvability Ratio

Ada beberapa pengertian dari solvability ratio, mulai dari secara umum dan menurut pendapat para ahli. Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Pengertian Solvability Ratio Secara Umum

Pengertian rasio solvabilitas adalah rasio untuk menilai kemampuan perusahaan di dalam melunasi seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang, dengan jaminan aktiva atau kekayaan yang dimiliki perusahaan sampai perusahaan tutup atau dilikuidasi.

Rasio solvabilitas atau atau leverage ratio membandingkan beban pinjaman perusahaan secara total pada aset atau ekuitasnya.

Rasio ini memaparkan jumlah aset perusahaan yang dimiliki pemegang saham dibandingkan dengan aset yang dimiliki kreditor (pemberi utang).

Jika aset perusahaan lebih banyak dimiliki pemegang saham, perusahaan berikut tidak cukup leverage.

Jika kreditur atau pemberi utang, kebanyakan bank, mempunyai aset secara dominan, perusahaan berikut mempunyai tingkat leverage yang tinggi.

Rasio solvabilitas mutlak di dalam asuransi, karena kita bisa mengukur seberapa sehat keuangan perusahaan dan seberapa bisa perusahaan membayar pinjaman jangka panjangnya.

Sebelum membicarakan lebih jauh, kita telaah dahulu arti solvabilitas. Solvabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk melunasi seluruh pinjaman memanfaatkan seluruh aset sebagai penjamin pinjaman yang jadi rancangan dasar akuntansi.

Solvabilitas perusahaan merefleksikan kemampuan perusahaan di dalam melunasi atau membayar seluruh pinjaman melalui jumlah aktiva yang dimiliki. Kemampuan ini nantinya dapat mempengaruhi laporan keuangan perusahaan.

Pengertian Solvability Ratio Menurut Para Ahli

Di bawah ini adalah beberapa daftar kumpulan pendapat para ahli mengenai pengertian dan definisi solvability ratio.

1. Sutrisno

Sutrisno (2009:15) mengatakan rasio solvabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi seluruh hutangnya jika perusahaan dilikuidasi.

2. Djarwanto

Djarwanto (2004:162) menjelaskan rasio solvabilitas adalah rasio yang menunjukan kapasitas dan kemampuan perusahaan untuk memenuhi semua kewajiban jangka panjangnya. Besarnya ukuran umumnya yang dipakai adalah 200% atau 2:1. Perbandingan tersebut berarti 2 kali dari total utang perusahaan dikatakan solvable jika rasio-nya kurang dari 200%.

3. M Hanafi

M Hanafi dan Abdul Halim (2012:75) menyebutkan rasio solvabilitas adalah rasio yang mengukur kemampuan dari suatu perusahaan dalam memenuhi semua kewajiban jangka panjangnya.

Van Horne dan Wachoviz (2012:233) menjelaskan rasio solvabilitas adalah alat untuk mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemiliknya dengan dana yang dipinjam dari kreditur atau pemberi hutang.

4. Bringham

Bringham dan Houston (2010:140) mengatakan rasio solvabilitas adalah rasio yang mengukur sejauh mana perusahaan memakai pendanaan melalui hutangnya.

5. Kasmir

Kasmir (2012:151) menyebutkan rasio solvabilitas adalah rasio yang dpakai untuk mengukur sejauhmana aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang.

Jenis dan Rumus Solvability Ratio

Pada biasanya penggunaan rasio solvabilitas atau leverage ini disesuaikan dengan obyek perusahaan.

Hal selanjutnya artinya perusahaan mampu memakai rasio solvabilitas secara keseluruhan atau sebagian dari tiap tiap model rasio solvabilitas yang ada.

Pemakaian rasio solvabilitas secara keseluruhan artinya seluruh model rasio solvabilitas dipakai untuk menganalisis laporan keuangan. Sedangkan sebagian artinya perusahaan hanya memakai sebagian model yang dianggap dibutuhkan.

Terdapat sebagian model rasio solvabilitas yang mampu digunakan, yakni sebagai berikut.

1. Debt to Assets Ratio (DAR)

DAR adalah rasio solvabilitas yang digunakan untuk tunjukkan atau mengukur perbandingan pada kuantitas hutang dengan kuantitas aktiva.

Artinya, seberapa besar aktiva perusahaan yang dibiayai oleh hutang dan seberapa besar hutang perusahaan yang membawa efek terhadap pengelolaan dari aktiva perusahaan.

Dari hasil pengukuran, kecuali rasio-nya menunjukan nilai yang tinggi, artinya pendanaan dengan hutang tambah banyak maka dapat tambah susah perusahaan untuk meraih tambahan pinjaman.

Hal selanjutnya karena dikhawatirkan perusahaan tidak mampu untuk membayar seluruh hutang-nya dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya.

Semakin tinggi nilai dari DAR mengindikasikan bahwa:

  • Semakin besar kuantitas aktiva yang dibiayai dengan hutang.
  • Semakin kecil kuantitas aktiva yang dibiayai dengan modal.
  • Semakin besar atau tinggi dampak perusahaan untuk melunasi kewajiban jangka panjangnya.
  • Semakin besar beban bunga dari hutang yang harus dibayar oleh perusahaan.
  • Jika nilai dari perhitungan menunjukan 100% atau 1 kali, artinya kuantitas aktiva mirip dengan kuantitas hutang. Dengan demikianlah perusahaan tidak membawa kelebihan aktiva atas hutang yang dimilikinya.

Perusahaan harus mengusahakan sehingga nilai dari DAR tidak cukup dari 100% atau 1 kali, sehingga mampu dikatakan baik.

Berikut merupakan rumus yang mampu digunakan untuk mengkalkulasi debt to assets ratio.

Debt to Assets Tatio = Total Hutang (Debt)/Total Aktiva (Assets) x 100%

Debt to Assets Ratio = Total Hutang (Debt)/Total Aktiva (Assets)

2. Debt to Equity Ratio (DER)

DER adalah rasio yang dipakai untuk menilai atau mengukur perbandingan pada kuantitas hutang dengan kuantitas modal atau ekuitas.

Artinya mampu digunakan untuk mengetahui seberapa besar modal yang dijadikan sebagai jaminan atas hutang perusahaan.

Bagi pihak kerditor, kecuali nilai dari rasio ini besar atau tinggi dapat tambah tidak menguntungkan. Hal selanjutnya karena dapat tambah tinggi dampak yang ditanggung oleh pihak kreditur atas kegagalan yang bisa saja dapat berlangsung di perusahaan.

Semakin tinggi nilai DER kecuali dapat membawa dampak dampak yang tambah tinggi termasuk terhadap likuiditas perusahaan.

Apabila nilai rasio ini rendah, maka dapat tambah tinggi kuantitas pendanaan yang di sediakan oleh pemilik perusahaan.

Debt to equity ratio yang menunjukan nilai tidak cukup dari 1 atau 100%, mengindikasikan perusahaan selanjutnya membawa hutang yang lebih kecil daripada modal atau ekuitas-nya.

Rasio ini tidak cukup cocok untuk menganalisa perusahaan yang bergerak didalam bidang keuangan, kalau seperti bank, perusahaan asuransi, investasi, dan lain sebagainya.

Perusahaan selanjutnya condong membawa nilai DER yang tinggi. Hal selanjutnya karena sebagian besar dananya berasal dari pihak ke-3. Dana yang berasal dari pihak ke-3 selanjutnya diperlakukan sebagai hutang.

Bagi perusahaan – perusahaan selanjutnya tambah besar modal yang berasal dari pihak ke-3, maka bisa saja untuk meraih laba dapat tambah tinggi.

Tentunya tidak heran kalau perusahaan keuangan selanjutnya membawa nilai DER lebih dari 5. Berikut merupakan rumus yang mampu digunakan untuk mengkalkulasi debt to equity ratio.

Debt to Equity Ratio = Total Hutang (Debt)/Total Modal (Equity) x 100%

Debt to Equity Ratio = Total Hutang (Debt)/Total Modal (Equity)

3. Long Term Debt to Equity Ratio (LTDER)

LTDER adalah rasio yang menilai atau mengukur perbandingan pada hutang jangka panjang dengan modal.

Tujuan dipakainya rasio selanjutnya adalah untuk mengukur seberapa banyak bagian dari tiap tiap modal yang dijadikan sebagai penjamin hutang jangka panjang.

Berikut merupakan rumus yang mampu digunakan untuk mengkalkulasi long term debt to equity ratio (LTDER).

Long Term Debt to Equity Ratio = Total Hutang Jangka Panjang (Long Term Debt)/Total Modal (Equity) x 100%

Long Term Debt to Equity = Total Hutang Jangka Panjang (Long Term Debt)/Total Modal (Equity)

4. Times Interest Earned Ratio (TIER)

TIER adalah rasio yang digunakan untuk menilai atau mengukur kekuatan dari perusahaan didalam membayar biaya bunga dari kewajibannya.

Semakin tinggi nilai dari rasio TIER, maka dapat tambah besar pula kekuatan perusahaan untuk membayar bunga hutang-nya. Hal selanjutnya mampu menjadi tolak ukur untuk meraih tambahan utang dari kreditor.

Sebaliknya, kalau nilai rasio TIER ini rendah, maka dapat tambah rendah termasuk kekuatan perusahaan untuk melunasi bunga pinjamannya.

Untuk mengkalkulasi nilai dari rasio ini, dipakai perbandingan pada laba sebelum pajak dibandingkan dengan biaya bunga.

Berikut merupakan rumus yang digunakan untuk mengkalkulasi rasio TIER.

Time Interest Earned Ratio = Earning Before Tax (EBIT)/Biaya Bunga (Interest Expense) x 100%

Time Interest Earned Ratio = Earning Before Income Tax (EBIT)/Biaya Bunga (Interest Expense)

5. Fixed Charge Coverage Ratio

Fixed charge coverage ratio adalah rasio yang menyerupai seperti time interest earned ratio.

Perbedaan dari kedua rasio selanjutnya adalah kecuali perusahaan meraih hutang jangka panjang atau menyewa suatu aktiva berdasarkan kontrak sewa atau lease contract.

Berikut merupakan rumus yang mampu digunakan untuk mengkalkulasi fixed charge coverage ratio.

Fixed Charge Coverage Ratio = EBIT + Biaya Bunga + Kewajiban Sewa/Biaya Bunga + Kewajiban Sewa x 100%

Fixed Charge Coverage Ratio = EBIT + Biaya Bunga + Kewajiban Sewa/Biaya Bunga + Kewajiban Sewa

Tujuan Solvability Ratio

Pengontrolan rasio yang baik akan beri tambahan banyak sekali manfaat untuk perusahaan di dalam hadapi segala bentuk bisa saja yang akan timbul.

Tapi seluruh kebijakan berikut tergantung dari obyek perusahaan secara general. Berikut merupakan obyek dari perusahaan di dalam gunakan rasio solvabilitas.

  • Untuk melukiskan posisi perusahaan terhadap kewajiban kepada pihak kreditor.
  • Untuk menilai kekuatan dari perusahaan di dalam membayar seluruh kewajiban tetap-nya terhitung bersama dengan bunganya.
  • Untuk menyadari nilai aktiva, khususnya aktiva senantiasa terhadap modal, apakah telah sesuai atau belum seimbang.
  • Untuk laksanakan penilaian seberapa besarkah aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang.
  • Untuk laksanakan penilaian seberapa besarkah dampak dari hutang terhadap pengelolaan aktiva atau asset perusahaan.
  • Untuk laksanakan penilaian atau pengukuran seberapa anggota dari masing – masing rupiah modal sendiri yang dijadikan sebagai jaminan hutang jangka panjang.
  • Untuk laksanakan penilaian seberapa besar dana utang yang akan ditagih atau jatuh tempo terhadap modal yang dimiliki oleh perusahaan.

Manfaat Solvability Ratio

Pada umumnya rasio solvabilitas ini berguna atau bermanfaat untuk mengetahui seberapa besar solvable atau insolvable suatu perusahaan yang dilihat dari hutang-nya.

Perusahaan memerlukan utang sebagai tambahan modal ketika perusahaan akan melakukan ekspansi, misalnya seperti menambah cabang atau menambah jumlah produksi.

Manfaat yang lebih detail-nya adalah mewujudkan setiap tujuan perusahaan seperti yang sudah dijelaskan pada 7 poin sebelumnya.

Hubungan Rasio Solvabilitas dengan Likuiditas

Dalam dunia bisnis, tak hanya solvabilitas yang menggambarkan berkenaan kemampuan jangka panjang berasal dari perusahaan, diperlukan pula likuiditas yang membuktikan kemampuan berasal dari perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendeknya.

Perusahaan bersama nilai solvabilitas yang rendah bisa mengalami kepailitan atau kebangkrutan. Sedangkan perusahaan yang mempunyai nilai likuiditas yang rendah bisa termasuk pailit atau bangkrut walaupun mempunyai nilai solvabilitas tinggi.

Jadi bisa diartikan bahwa perusahaan yang solvable belum tentu likuid dan begitu termasuk sebaliknya, perusahaan yang insolvable belum tentu tidak likuid.

Berikut merupakan kemungkinan yang bisa dialami oleh perusahaan di dalam jalinan antara solvabilitas dan likuiditas.

  • Likuid dan solvable adalah sebuah perusahaan yang bisa untuk membayar seluruh kewajibannya, baik yang jangka panjang atau pendek.
  • Likuid tetapi insovable adalah sebuah perusahaan yang bisa membayar seluruh kewajiban jangka pendeknya tetapi tidak bisa membayar kewajiban jangka panjangnya.
  • Tidak likuid tetapi solvable adalah suatu perusahaan yang tidak bisa membayar kewajiban jangka pendeknya tetapi bisa membayar kewajiban jangka panjangnya.
  • Tidak likuid dan insolvable adalah suatu perusahaan yang tidak bisa membayar seluruh kewajibannya, baik yang berjangka pendek ataupun panjang.
  • Solvabilitas sesungguhnya adalah angka perbandingan antara kuantitas aktiva atau asset bersama kuantitas utang. Oleh dikarenakan itu setiap menambah kuantitas utang akan mengurangi tingkat solvabilitasnya.

Tingkat solvabilitas ini bisa dinaikkan, yakni bersama memanfaatkan 2 langkah berikut ini.

  • Menambah kuantitas aktiva tau asset tanpa harus menambah utang. Atau menambah asset bersama kuantitas yang relative besar dibandingkan bersama tambahan utang.
  • Mengurangi hutang tanpa harus mengurangi aktiva. Atau mengurangi hutang bersama kuantitas yang relative lebih besar dibandingkan bersama berkurangnya aktiva.

Contoh Solvability Ratio

Berikut ini dapat dijelaskan sebagian rumus untuk kesimpulan rasio solvabilitas berserta misal soalnya.

Debt To Equity Ratio
DER=TOTAL HUTANG/EKUITAS (MODAL) X 100%

Debt Ratio Atau Rasio Hutang
RASIO HUTANG=TOTAL HUTANG/TOTAL ASET X 100%

Times Interest Earned Ration
TIMES INTEREST EARNED RATIO=LABA SEBELUM PAJAK DAN BUNGA/BEBAN BUNGA X 100%

1. Contoh soal 1

Jika perusahaan Maju Makmur punyai neraca seperti berikut.

Saham : Rp.210.000.000
Laba ditahan: Rp.72.500.000
Kas: Rp.12.500.000
Piutang dagang: Rp.37.500.000
Barang dagangan: Rp. 100.000.000
Mesin: Rp.125.000.000
Bangunan: Rp.175.000.000
Tanah: Rp.50.000.000
Obligasi: Rp.90.000.000
Maka berapa solvabilitas perusahaan kalau dihitung memakai Rasio Modal dengan Aktiva?

Diketahui:
a. Modal sendiri: Saham + Laba ditahan = 210.000.000 + 72.500.000 = 282.500.000
b. Total aktiva : Kas + Piutang dagang + Barang dagangan + Mesin + Bangunan + Tanah = 12.500.000 + 37.500.000 + 100.000.000 + 125.000.000 + 175.000.000 + 50.000.000 = 500.000.000

Ditanyakan:
Berapa rasio modal dengan aktiva?

Dijawab:
RASIO MODAL DENGAN AKTIVA = (MODAL SENDIRI/TOTAL AKTIVA) X 100%

= (282.500.000/500.000.000) x 100%
= 28,25%

2. Contoh soal 2

Perusahaan ABC punyai keseluruhan aktiva sebesar Rp. 16.000.000, hutang lancar sebesar Rp. 30.000.000 dan hutang jangka panjang sebesar 46.000.000. Maka berapa rasio hutang terhadap ekuitas nya?

Diketahui:
a. Total aktiva : Rp. 16.000.000
b. Total hutang : hutang lancar + hutang jangka panjang = 30.000.000 + 46.000.000 = 76.000.000

Ditanya:
Berapa rasio hutang terhadap ekuitas?

Dijawab:
RASIO HUTANG TERHADAP EKUITAS = (TOTAL HUTANG/TOTAL AKTIVA) X 100%

= (76.000.000/16.000.000) X 100%
= 95%

Akhir Kata

Demikian pembahasan lengkap mengenai pengertian solvability ratio. Mulai dari pengertian, jenis, rumus, macam-macam, klasifikasi, karakteristik, tujuan, manfaat, fungsi, contoh, dan sebagainya.

Tinggalkan komentar